Skip to main content
Artikel

Memahami Kecanduan Narkoba

Dibaca: 1517 Oleh 17 Mar 2020Desember 24th, 2020Tidak ada komentar
berita dan artikel 1
#BNN #StopNarkoba #CegahNarkoba

Istilah ketergantungan pada narkoba adalah sebuah fase seorang addict telah mengalami situasi dimana dia sudah tidak bisa melepaskan diri dari penggunaan narkoba. Pola hidup dan kebiasaannya sudah berubah total seolah-olah menjadi bukan dirinya yang semula. Ketika seseorang sudah dalam kecanduan, semua cara bisa dilakukan untuk mendapatkan narkoba termasuk melakukan perbuatan yang melanggar hukum seperti mencuri, menipu bahkan “turbo” (tukar bodi-istilah untuk orang yang sedang sangat memerlukan narkoba dengan melakukan kontak seksual sebagai imbalannya) sekalipun.

Barker (2003 dalam NASW 2005) mengatakan bahwa kecanduan narkoba biasanya dikarakteristikkan oleh penggunaan secara berkelanjutan dan ketagihan narkoba tertentu, alcohol, pengobatan atau zat yang mengandung racun lainnya, dan disertai oleh gejala kognitif, perilaku, afektif dan psikologis.

Perilaku yang menyimpang yang dilakukan oleh seorang penagih menjadi sebuah rutinitas dalam hidupnya. Dorongan untuk memakai narkoba membuat dia tidak bisa mengelak dari perbuatan menyimpang tersebut. Penagih tidak akan memedulikan lagi akibat dari perbuatannya yang merugikan dirinya sendiri, keluarganya bahkan orang lain sekalipun.

Perilaku maladaptif dan dinilai sebagian besar masyarakat sebagai sebuah perilaku yang melanggar nilai-nilai masyarakat tersebut. Shannon (2010) mengatakan kecanduan adalah kronis, penyakit otak kronis yang menyebabkan dorongan untuk mencari obat dan menggunakannya meskipun memiliki konsekuensi berbahaya bagi individu yang kecanduan dan orang di sekitar mereka. Kecanduan obat adalah penyakit otak karena penyalahgunaan narkoba menyebabkan perubahan dalam struktur dan fungsi otak.

Penyalahgunaan narkoba dalam jangka panjang menyebabkan perubahan dalam sistem kimia otak lainnya dan juga sirkuit otak. Studi Brain Image individu kecanduan narkoba narkoba menunjukkan perubahan area otak yang penting untuk penilaian, pengambilan keputusan, belajar dan memori, dan kontrol perilaku. Bersama-sama, perubahan ini dapat mendorong pelaku untuk mencari dan mengambil obat kompulsif meskipun konsekuensinya merugikan – dengan kata lain, menjadi kecanduan narkoba (Shannon, 2010).

Pada awalnya seorang pecandu menggunakan narkoba tanpa ada pengaruh pada otaknya, namun seiring pemakaian yang berulang-ulang terjadi perubahan pada otaknya. Perubahan pada otak tersebut dapat mengakibatkan control diri pecandu dan kemampuan untuk membuat keputusan menjadi lemah dan akhirnya dia menggunakan narkoba.

Sama dengan penyakit kronis lain, penyakit kambuhan, seperti diabetes, asma, atau penyakit hati, kecanduan narkoba bisa dikelola dengan sukses. Dan, sama dengan penyakit kronis lainnya, kecanduan narkoba bukan hal yang luar biasa bagi seorang untuk kambuh dan mulai kecanduan narkoba lagi. Relapse, bagaimanapun, bukan menandakan kegagalan seseorang – mungkin, relapse mengindikasikan bahwa pengobatan sebaiknya dikembalikan, disesuaikan, atau bahwa pengobatan alternatif diperlukan untuk membantu individu mendapatkan kembali kontrol dan sembuh (Shannon, 2012).

Sekarang ini, akumulasi data dan studi brain image mengungkapkan lebih lanjut tentang bagaimana kecanduan dimulai dan pada akhirnya mempengaruhineurokimia otak, model penyakit telah menjadi diterima secara luas (Hall et al,2009).

Konsep kecanduan yang digolongkan kedalam sebuah penyakit masih menjadi sebuah kontroversi. Sebagian besar masyarakat masih memandang bahwa kecanduan narkoba adalah sesuatu yang berhubungan dengan masalah moral. Adapaun pendapat lain yang mengatakan kecanduan adalah sebuah penyakit didasarkan pada temuan hasil penelitian yang kemudian telah teruji kebenarannya.

Timmreck (dalam Sussman dan Ames, 2008) penyakit adalah konsep yang sulit dipahami dan agak samar-samar dan didefinisikan secara sosial dan kultural serta ilmiah. Setiap gangguan dalam fungsi dan struktur tubuh dapat dianggap sebagai penyakit. Penyakit didefinisikan sebagai suatu pola tanggapan oleh organisme hidup untuk beberapa bentuk invasi zat asing atau cedera, yang menyebabkan perubahan fungsi normal organisme. Penyakit dapat lebih didefinisikan sebagai keadaan tidak normal di mana tubuh tidak mampu menanggapi atau menjalankan fungsinya biasanya diperlukan. Penyakit ini juga merupakan kegagalan mekanisme adaptif dari suatu organisme untuk melawan invasi tubuh oleh zat asing secara memadai, mengakibatkan gangguan pada fungsi atau struktur dari beberapa bagian dari organisme.

Timmreck melanjutkan dengan menunjukkan bahwa penyakit dapat bersifat akut atau kronis dan menular atau tidak menular. Penyakit jantung, kanker, kelumpuhan, diabetes, dan alkoholik yang dimasukkan sebagai penyakit kronis dan tidak menular. Genetik, pengaruh perilaku, dan lingkungan dapat menyebabkan penyakit.

Dalam kaitannya dengan kecanduan sebagai sebuah penyakit, Sussman and Ames, 2008) mengakatan adanya keterbatasan konsep penyakit kecanduan.

  1. Dokter tidak mempunyai arti independen cara memverifikasi keberadaan penyakit, yaitu, sulit untuk memisahkan faktor (misalnya, racun atau virus) dari gejala (misalnya, suhu tinggi) dalam gangguan perilaku (misalnya, menggunakan narkoba dengan dosis tinggi dapat digunakan untuk menunjukkan kedua gejala dan faktor dari penyakit).
  2. Gejala perilaku dapat didefinisikan sebagai lebih atau kurang teratur tergantung pada konteks lingkungan sosial. Artinya, kecanduan narkoba bisa merupakan rangkaian gangguan perilaku, sebagai lawan dari perspektif kembar sering digunakan untuk mendefinisikan suatu penyakit.
  3. Ketiga, variasi dalam gejala perilaku mungkin atau mungkin tidak mencerminkan dasar yang sama faktor penyalahgunaan narkoba. Sebagai contoh, ada berbagai pola penyalahgunaan narkoba, dari sebuah masalah penggunaan sekali-kali kepada penggunaan yang periodic, penggunaan berat atau tidak terkontrol. Tidak jelas apakah variasi ini mencerminkan proses dasar yang sama atau etiologi.
  4. Faktor etiologi untuk kecanduan narkoba sebagai gangguan perilaku masih diteliti. Hal ini mungkin bahwa perbedaan kuantitatif dan kualitatif ada kerentanan. Misalnya, dengan kecanduan narkoba didefinisikan sebagai penyakit yang berbeda, berbagai perilaku adiktif dianggap perbedaan secara kualitatif (misalnya, perjudian kompulsif, kecanduan narkoba, makan berlebihan), yaitu, seringkali proses yang mendasari seluruh masalah perilaku sering tidak dianggap.
  5. Didefinisikan sebagai penyakit, kapasitas manajemen diri dan asumsi perilaku tanggung jawab seseorang mungkin dirusak. Akhirnya, didefinisikan sebagai penyakit, pilihan pengobatan mungkin terbatas. Tujuan biasa mungkin tidak diterima dan dapat mencegah beberapa individu dari mencari pengobatan (misalnya, beberapa mungkin bersedia untuk memulai perawatan untuk mencoba untuk menjadi peminum terkendali dan, jika itu gagal, menjadi tidaksama sekali).

Membandingkan dengan penyakit pada jantung dan pembuluh darah (cardiovascular) Sussman dan Ames (2008) mengatakan bahwa penyakit cardiovascular mungkin menderita berbagai macam konsekwensi kesehatan seperti stroke atau heart attack yang membatasi partisipasi dalam aktifitas normal. Penyakit ini diakibatkan oleh asupan makanan yang berlemak, kurang olahraga, merokok, dsb.

Lebih lanjut Sussman dan Ames mengatakan bahwa mungkin kecanduan narkoba adalah kondisi outcome yang sama dengan penyakit cardiovascular yang melibatkan konsekwensi negatif yang diakibatkan oleh narkoba yang digunakan dan kesiapan biologis.

Kecanduan narkoba bisa diuji sebagai sebuah rangkaian yang berkelanjutan. Seseorang yang misuse narkoba relatif bebas narkoba tapi mereka kemudian dapat berperilaku maladaftif sehingga bisa menggunakan narkoba berulang-ulang dan dalam waktu lama bisa kecanduan. Jika kemudian berhenti, mereka bisa terlibat dalam kegiatan sosial dan mempelajari alternatif coping mekanisme dan pengobatan pribadi.

Penagih lainnya mungkin tidak mempunyai self control dalam menggunakan narkoba. Seseorang pertama kali menggunakan dan kemudian tidak mengontrolnya. Akibatnya individu tersebut menjadi seorang penagih walaupun dikemudian hari dia menggunakannya secara on-off. Penagih akan terus menggunakan narkoba bahkan sampai dia meninggal. Karena pada fase ini dia tidak bisa lepas dari narkoba. Mereka bahkan mempunyai filosofi sendiri tentang narkoba “hidup untuk make dan make untuk hidup”.

Tidak semua orang yang menyalahgunakan narkoba menjadi kecanduan. Resiko kecanduan (Shannon, 2010) dipengaruhi oleh factor biologis seseorang, lingkungan social dan usia atau tahapan perkembangan. Semakin banyak factor yang dimiliki oleh individu, semakin besar kemungkinan menjadi kecanduan.

Hawkins dan Catalano ( 1994, dalam Freeman, 2001) mengatakan bahwa kecanduan dapat menggambarkan upaya perusakan diri secara ekstrim untuk memperoleh kekuatan personal melebihi masalah yang tidak terkendalikan seperti orang tua, penolakan teman sebaya, harga diri rendah, atau tidak memiliki pekerjaan, atau kecanduan dapat terjadi mendahului atau bersamaan dengan masalah lainnya. Hasilnya bisa menjadi sebuah kumulatif kehilangan kekuatan meskipun ada upaya untuk mengontrolnya. Ironisnya, upaya ini sering berkurang daripada memperpanjang kekuatan personal. Selain itu, peran lingkungan tidak dapat diabaikan. Sumber defisit dan lingkungan takterpelihara dapat memblokir jalan yang tepat kekuatan pribadi, interpersonal, atau politik saat mengekspos orang-orang untuk berisiko seperti akses mudah ke zat dan kecanduan.

Resiko ini dapat memperkuat rasa ketidakberdayaan individu atau masyarakat. Contohnya, interview penelitian dengan grup anak-anak dan anak muda empat sampai tujuh belas tahun yang sedang menerima pelayanan dari pusat kesehatan mental untuk masalah psikologi mengungkapkan bahwa kebanyakan mereka menyaksikan beberapa episode penggunaan narkoba, penjualan dan menerima kekerasan keluarga dan masyarakat setiap hari. Rekaman kasus ini belum termasuk informasi tentang factor lingkungan atau dampak pada penggunaan narkoba nya, depresi, percobaan bunuh diri, ketidakberdayaan, atau kehilangan harapan tentang masa depan (Freeman and Dyer, 1993 dalam Freeman, 2001).

Meskipun terdapat benang merah antara kecanduan narkoba dan pemberdayaan, seringkali orang dalam rehabilitasi kecanduan narkoba dan bidang pencegahan mengecilkan analisis kekuatan kondisi individu dan lingkungan. Seringkali hal ini dijadikan sebagai pembelaan dan penyangkalan dan juga penonjolan masalah.

Analisa kekuatan dapat menjadi masalah bagi penyedia layanan bukan hanya karena mereka percaya analisis tersebut menjauhi pertanyaan tanggungjawab personal tapi juga karena penyedia layanan merasa tidak cukup: mereka tidak mengerti kebijakan ata isu makro dan/atau mereka mempunyai konflik personal tentang keadilan (Freeman, 2001).

Referensi

National Association of Social Workers, 2005, NASW Standards for Social Work Practice with Clients with Substance Use Disorders, NASW.

Shannon, Joyce B (2010), Drug Abuse Sourcebook, Detroit : Omnigraphics. Hall, Wayne D;Mattick, Richard P Oral substitution treatments for opioid dependence The Lancet; Jun 28-Jul 4, 2008; 371, 9631; ProQuest pg. 2150

Sussman, Steve & Ames, Susan L. (2008), Drug Abuses concept, Prevention and Cessation, Cambridge : Cambridge University Press,

Freeman, Edith M. (2001), Substance Abuse Intervention, Prevention, Rehabilitation, and Sistem Change Strategies. Helping Individuals, families, and groups to empower Themselves, New York: Columbia University Press.

Oleh : Samsul Anwar, S.Pd., MPSSp. (Kasi Rehabilitasi BNN Kota Cimahi)

Terkait

Kirim Tanggapan